adada
Yayasan Serayu Network Indonesia
085647920404
Program TJSL SMV Kemenkeu 2024 - Peduli DAS Serayu, Kolaborasi Nyata untuk Alam dan Masyarakat

Program TJSL SMV Kemenkeu 2024 - Peduli DAS Serayu, Kolaborasi Nyata untuk Alam dan Masyarakat

 

Program TJSL SMV Kemenkeu 2024 – Peduli DAS Serayu: Kolaborasi Nyata untuk Alam dan Masyarakat

Di tengah ancaman krisis lingkungan yang semakin nyata, upaya penyelamatan daerah aliran sungai (DAS) menjadi semakin mendesak. Salah satu inisiatif kolaboratif yang patut diapresiasi hadir melalui Program Sinergi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) SMV Kementerian Keuangan Republik Indonesia bertajuk Peduli DAS Serayu. Program ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan gerakan bersama yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Tujuh Special Mission Vehicles (SMV) di bawah Kementerian Keuangan RI, yaitu PT Geo Dipa Energi (Persero), PT Sarana Multigriya Finansial (Persero), PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero), Indonesia Infrastructure Finance (IIF), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), dan PT Karabha Digdaya, bersatu dalam satu visi: menjaga kelestarian DAS Serayu sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.


Ancaman Nyata di Hulu DAS Serayu

DAS Serayu, yang menjadi salah satu penopang ekosistem dan sumber daya air di Jawa Tengah, menghadapi ancaman serius akibat sedimentasi masif di wilayah hulu. Praktik pengolahan lahan yang kurang ramah lingkungan telah mempercepat erosi tanah, yang pada akhirnya mengendap di Bendungan Panglima Besar Jenderal Soedirman (Waduk Mrica). Data menunjukkan bahwa volume sedimentasi telah mencapai 6,6 juta meter kubik pada tahun 2021, menyisakan kapasitas waduk hanya sekitar 12,2%. Kondisi ini tidak hanya mengancam keberlanjutan pembangkit listrik tenaga air, tetapi juga berdampak luas terhadap sektor pertanian, perikanan, hingga ketersediaan air bagi masyarakat.

Kolaborasi dan Aksi Nyata di Lapangan

Sebagaimana ditampilkan dalam dokumentasi visual program, kolaborasi antara SMV Kemenkeu dan masyarakat lokal menjadi kunci utama keberhasilan inisiatif ini. Program ini menekankan bahwa upaya konservasi tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus melibatkan masyarakat sebagai aktor utama perubahan. Dalam implementasinya, dukungan yang diberikan tidak hanya berupa bantuan fisik, tetapi juga pendampingan dan penguatan kapasitas kelompok. (Instagram). Pendekatan ini memastikan bahwa program tidak berhenti sebagai proyek jangka pendek, tetapi berkembang menjadi sistem ekonomi dan ekologi yang berkelanjutan.

Pendekatan Terpadu Berbasis Pemberdayaan

Program TJSL SMV Kemenkeu hadir dengan pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat dan konservasi lingkungan. Beberapa program unggulan yang telah dilaksanakan antara lain:

  1. Pengelolaan Kambing Perah – Desa Sumberejo, Batur (Banjarnegara)
    Penyempurnaan kandang, instalasi listrik dan air, pengadaan kambing, serta penyediaan pakan konsentrat.

  2. Pengelolaan Domba dan HPT – Desa Jengkol, Garung (Wonosobo)
    Meliputi pembangunan greenhouse, kandang, serta pengadaan domba. Greenhouse kini menjadi pusat pembibitan tanaman konservasi.

  3. Pembangunan Kandang Kambing – Desa Pegundungan, Pejawaran (Banjarnegara)
    Mendukung penguatan ekonomi berbasis peternakan komunitas.

  4. Penyaluran Mesin Chopper untuk 16 Desa Rawan Longsor
    Mendukung produksi pakan silase sekaligus mengurangi limbah biomassa.

  5. Penguatan Kampung Ilmu Serayu Network – Kecamatan Bawang (Banjarnegara)
    Pembangunan kandang anakan, mesin pengolahan sabut kelapa, serta solar dryer dome sebagai bagian dari pengembangan pusat edukasi konservasi.


Monitoring dan Dampak Nyata Program

Sebagai bagian dari akuntabilitas program, dilakukan Final Monitoring Impact Report pada 10 Agustus 2025 di Desa Sumberejo. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan tujuh SMV yang dikoordinasikan oleh PT Geo Dipa Energi (Persero), serta seluruh penerima manfaat.

Setelah satu tahun implementasi (selesai Maret 2025), program menunjukkan perkembangan signifikan:

  • 27 kambing perah di Sumberejo dan 25 domba cross texel di Jengkol berkembang dan mulai menghasilkan nilai ekonomi.

  • Greenhouse di Jengkol aktif sebagai pusat pembibitan tanaman konservasi dan sayuran organik.

  • 16 mesin chopper meningkatkan efisiensi penyediaan pakan ternak di wilayah rawan longsor.

  • Kampung Ilmu Serayu Network semakin kuat sebagai pusat edukasi konservasi dan pemberdayaan masyarakat.


Menuju Gerakan Besar Pelestarian DAS

Program TJSL SMV Kemenkeu – Peduli DAS Serayu membuktikan bahwa kolaborasi lintas lembaga dan masyarakat mampu menghasilkan dampak nyata. Dari hulu hingga hilir, pendekatan yang menggabungkan konservasi lingkungan dengan penguatan ekonomi lokal menjadi model yang relevan untuk direplikasi di berbagai daerah. Lebih dari sekadar program, inisiatif ini adalah gerakan bersama—bahwa menjaga DAS Serayu berarti menjaga masa depan.