adada
Yayasan Serayu Network Indonesia
085647920404
Kaji Tiru Kampung Ilmu Hari Ke-2: Belajar Inovasi, Kolaborasi, dan Pemberdayaan Berkelanjutan

Kaji Tiru Kampung Ilmu Hari Ke-2: Belajar Inovasi, Kolaborasi, dan Pemberdayaan Berkelanjutan

Rangkaian kegiatan Kaji Tiru yang berlangsung di Kampung Ilmu kini memasuki hari kedua. Suasana penuh semangat belajar dan kolaborasi begitu terasa sejak pagi hari. Kegiatan ini masih setia mempertemukan para penggerak perubahan dari berbagai daerah, khususnya tim dari Yayasan No Fitu Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Yayasan Serayu Network Indonesia. Setelah sukses membuka ruang diskusi dan adaptasi program pada hari pertama, agenda hari kedua ini dirancang untuk mendalami implementasi taktis dan inovasi di lapangan. Kehadiran kedua yayasan besar ini membawa warna tersendiri dalam bertukar praktik baik (best practices) demi kemajuan pemberdayaan masyarakat dan pendidikan.

  1. Integrasi Peternakan Ayam, Ikan dan Kambing di Desa Tlagawera

Kegiatan ini dimulai pagi hari menuju lokasi pertama kunjungan yaitu Desa Tlagawera, Kecamatan Banjarnegara tentang intergrasi ayam, ikan lele dan peternakan kambing PE. Di sana mereka bertemu dengan Saefudin Isro, sosok anak muda inspiratif yang merupakan pelaku usaha mandiri di bidang peternakan ayam petelur, budidaya ikan, dan kambing PE kontes.

Kegiatan Pertama dimulai dari kandang kambing PE, rombongan mendapat penjelasan tentang bagaimana cara merawat, pemberian pakan, kesehatan masa reproduksi yang baik dan rombongan melihat langsung peternakan kambing yang dirintis sejak tahun 2017. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke kandang ayam petelur yang memiliki populasi sebanyak 650 ekor. Di lokasi ini, para peserta mempelajari seluk-beluk budidaya ayam petelur yang selama ini jarang diketahui masyarakat umum. Edukasi dimulai dari teknik pemilihan bibit unggul, manajemen pemberian pakan terbaik, hingga konsep zero waste melalui pemanfaatan kotoran ayam yang diolah menjadi pakan ikan lele.

Tak hanya mengamati, di tengah kegiatan para peserta juga terlibat langsung memberikan pakan kepada 5.000 ekor ikan lele. Budidaya lele di sini menggunakan sistem pembesaran yang dimulai dari benih ukuran 5-7 cm, dengan target masa panen dalam waktu 2,5 bulan. Setelah sesi lapangan, rombongan berkumpul untuk melakukan diskusi interaktif. Dalam sesi ini, mereka bertukar pikiran mengenai rekam jejak awal mula merintis usaha tersebut hingga bisa berkembang pesat. Salah satu kunci suksesnya adalah keberhasilan membangun jejaring strategis sejak tahun 2025 bersama BUMDes Urip Mukti melalui sistem pemberdayaan peternak lokal (sistem gaduh). Selain itu, usaha ini juga bersinergi erat dengan Koperasi Bima Lukar Banjarnegara, Serayu Network, dan Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI).

Di tengah diskusi, Ristha Damaris dari Yayasan Ume Daya Nusantara menyampaikan ketertarikannya untuk menjalin kolaborasi lebih lanjut. “Kami ingin adanya kolaborasi dengan teman-teman di Banjarnegara untuk menjadi pemasok bahan baku yang tidak ada di NTT, terutama untuk komoditas buah musiman,” ungkapnya. Pertemuan ini menjadi bukti nyata betapa pentingnya membangun jejaring (networking) yang kuat dalam menyukseskan kegiatan pemberdayaan masyarakat.

  1. Belajar Strategi Pemanfaatan Tepung Singkong (Mocaf)

‎Kegiatan dilanjutkan ke PT. Rumah Mocaf Indonesia yaitu produsen dan eksportir tepung mocaf bebas gluten dari singkong yang dapat digunakan sebagai bahan utama untuk memanggang dan memasak. Rumah Mocaf didirikan oleh Bapak Riza Azyumarridha Azra dan Ibu Wakhyutami yang dirintis sebagai program pemberdayaan petani singkong di Banjarnegara dan sudah bekerjasama dengan lebih dari 452 petani yang terbagi dalam 11 Kelompok Tani Singkong binaan. Para peserta belajar dan berdiskusi banyak tentang bagaimana berkomitmen dan membangun lingkungan bisnis yang berkelanjutan dan bertanggung jawab serta penerapan pertanian yang ramah lingkungan dan terintegrasi. Selain berdiskusi, rombongan juga membeli bebepa produk rumah mocaf yaitu tepung mocaf, mie cassa, gula singkong garva, roti tawar, dan kue kering.

  1. Pengecekan SPPG Binorong, Mrica

‎Setelah berkunjung ke PT Rumah Mocaf Indonesia, kegiatan berlanjut ke SPPG Binorong Mrica yaitu pengecekan fasilitas dan lokasi sppg. Terdapat fokus utama yang diamati serta didiskusikan para peserta yakni tentang posisi dapur, tempat pencucian ompreng serta pembuangan akhir limbah. Diskusi ini bertujuan untuk menampung berbagai kritik dan masukan untuk menunjang kenyamanan saat sppg beroperasi, setelah berdiskusi kegiatan ditutup sesi foto bersama.

  1. Diskusi Interaktif Mengenai Potensi Kopi Senggani Pegundungan

Kegiatan berlanjut makan siang dan berdiskusi di ruang meeting Serayu Network terkait kopi Pegundungan yang melegenda. Tim dari Yayasan No Fitu Timor Nusa Tenggara Timur (NTT), Tim Yayasan Ume Daya Nusantara, tim Yayasan Riftah, tim Yayasan CTA, tim Yayasan Serayu Network Indonesia, tim FPIK UNDIP, tim Batu Bata Panggisari berdiskusi langsung dengan tim dari Pegundungan yang terdiri dari Kepala Desa Ibu Murti, S.Pd serta Sekretaris Desa Bapak Imam.

Fokus diskusi ini mempelajari bagaimana tantangan dan peluang dari sebuah potensi, menurut sekretaris Desa Pegundungan Bapak Imam "Sebelum dikenal ke wilayah luar, Desa Pegundungan terkenal dengan desa tertinggal". Berkacah dari masalah tersebut PT PLN INDONESIA POWER dan SERAYU NETWORK berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Pegundungan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat melalui perkebunan kopi untuk meningkatkan perekonomian. Masyarakat didorong untuk bisa membudidayakan kopi serta menjual produk kopi tersebut, awalnya petani desa menolak karna dianggap tidak menguntungkan namun melalui pelatihan, pendamping dan kolaborasi pandangan masyarakat yang awalnya menolak kini berubah.  Pada tahun 2011 ekonomi masyarakat Desa Pegundungan sudah mulai berkembang dengan munculnya produk kopi yaitu Kopi Senggani. Memiliki rasa unik serta karakteristiknya sendiri Kopi Senggani banyak diminati masyarakat luas. Dari diskusi ini para peserta dapat mengambil ilmu baru yang dapat diimplementasikan didaerah mereka masing- masing.

  1. Keliling Kampung Ilmu Serayu Network

‎Sore hari setelah diskusi selesai seluruh peserta diarahkan untuk berkeliling berbagai unit yang ada di Kampung Ilmu Serayu Network, peserta diberikan pemahaman tentang 4 pilar yang menjadi landasan kampung ilmu yaitu peternakan kambing, pembibitan tanaman konservasi, pengolahan pupuk organik dan pengolahan silase ternak. Unit pertama yang dikunjungi adalah pembibitan tanaman konservasi, dijelaskan bahwa terdapat banyak jenis tanaman konservasi yang dibudidayakan Kampung Ilmu Serayu Network seperti gayam, aren, wilada, indigovera, kaliandra, turi dll. Kemudian dilanjutkan ke greenhouse disini terdapat poin unik yang harus diulik yaitu pemanfaatan sedimentasi Bendungan Mrica menjadi media tanam. Selain memanfaatkan limbah sedimen, hal ini juga dapat mengurangi laju sedimen yang sudah menumpuk banyak di bendungan mrica. Setelah itu, seluruh peserta diarahkan menuju area kandang kambing Sanen dan Sapera. Di sana, mereka mendapatkan ilmu dan edukasi mendalam mengenai tata cara budidaya kambing yang baik, mulai dari pemilihan bibit unggul, manajemen pakan yang bernutrisi, hingga perawatan kesehatan hewan.

‎Selanjutnya, para peserta diajak untuk mengunjungi bank pupuk Kampung Ilmu Serayu Network. Selama berada di unit ini, peserta mendapat penjelasan mendalam mengenai inovasi pemanfaatan kotoran kambing dan domba serta limbah eceng gondok yang populasinya melimpah di Bendungan Mrica yang kemudian diolah menjadi pupuk organik berkualitas bernama Pupuk Lidok. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi, sekaligus menjadi simbol kebersamaan antara Kampung Ilmu Serayu Network dan seluruh peserta yang hadir dari NTT dan Sumatera Barat.

 

 

(GBS/TA_YSNI)