Kaji Tiru Kampung Ilmu Hari Ke-3: Refleksi Pembelajaran Hari Pertama hingga Ketiga dalam Membangun Pemberdayaan dan Tata Kelola Berbasis Komunitas
Udara pagi di Telaga Menjer terasa begitu segar. Kabut tipis menyelimuti perbukitan hijau dengan suasana sejuk yang menghadirkan ketenangan bagi rombongan Kaji Tiru Kampung Ilmu pada hari ketiga, 13 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian pembelajaran strategis dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat dan pengembangan unit usaha berbasis komunitas.
Telaga Menjer sendiri merupakan danau vulkanik alami terbesar di kawasan Dieng yang terbentuk akibat letusan Gunung Pakuwaja. Berada di ketinggian sekitar 1.300 mdpl di Desa Maron, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo kawasan ini menawarkan panorama alam yang indah dengan latar perbukitan, perkebunan teh, serta udara pegunungan yang khas.
Namun di balik keindahan tersebut, Telaga Menjer pernah menghadapi persoalan serius akibat pertumbuhan enceng gondok yang memenuhi permukaan telaga. Berbagai pendekatan berbasis program pemerintah sempat dilakukan, namun tidak berjalan optimal karena keterbatasan biaya dan minimnya dukungan anggaran. Kondisi tersebut justru melahirkan inisiatif baru dari masyarakat. Berangkat dari kepedulian bersama, belasan pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna mulai melakukan gerakan gotong royong membersihkan telaga secara mandiri tanpa biaya besar. Upaya sederhana yang dilakukan secara konsisten itu perlahan menghadirkan perubahan nyata. Telaga Menjer kini menjadi jauh lebih bersih, tertata, dan berkembang menjadi destinasi wisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Keberhasilan tersebut juga menunjukkan bagaimana pengelolaan wisata berbasis masyarakat dapat berjalan secara berkelanjutan. Pemerintah Desa melalui BUMDes yang dikelola bersama Karang Taruna mampu menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PAD) dari sektor retribusi wisata hingga sekitar Rp100 juta per tahun. Dari pendapatan tersebut, sebanyak 70 persen dialokasikan sebagai insentif bagi sekitar 140 anggota Karang Taruna, sementara 30 persen lainnya digunakan untuk pengembangan BUMDes dan penguatan pengelolaan wisata desa.
Dalam kunjungan ini, rombongan bertemu langsung dengan Karang Taruna Desa Maron yang diwakili oleh Mas Arbi. Diskusi berlangsung hangat di Bukit Pandangan Pertama, setelah perjalanan wisata perahu di Telaga Menjer. Para peserta belajar mengenai proses pengorganisasian masyarakat, pembagian peran pemuda desa, hingga strategi menjaga keberlanjutan wisata tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan eksternal. Setelah sesi diskusi, rombongan menikmati makan siang di rumah makan milik Mas Arbi sebagai bagian dari dukungan terhadap usaha lokal masyarakat setempat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menuju Stasiun Purwokerto untuk kepulangan peserta kembali ke NTT dan Sumatera Barat.
Kegiatan hari ketiga ini sekaligus menjadi refleksi atas keseluruhan proses pembelajaran yang telah berlangsung sejak kunjungan di Kampung Ilmu Purwakarta hingga rangkaian kaji tiru di kawasan DAS Serayu. Seluruh proses tersebut merupakan implementasi nyata dari pendekatan pembelajaran sosial yang terdiri dari empat tahapan utama.
Tahap pertama adalah Learning to Know atau belajar untuk mengetahui. Pada fase ini, peserta diajak memahami persoalan secara menyeluruh, mulai dari kondisi, dampak hingga tantangan sosial dan lingkungan yang terjadi. Fokus utamanya adalah membangun kesadaran kritis (critical consciousness) agar peserta memahami akar persoalan sekaligus peluang perubahan. Tahap kedua adalah Learning to Do atau belajar untuk melakukan. Pengetahuan yang telah dimiliki kemudian diterapkan melalui berbagai pelatihan dan praktik lapangan yang sebelumnya dilakukan. Dalam proses ini, peserta memperoleh keterampilan teknis yang dapat diterapkan secara langsung dalam pengelolaan lingkungan maupun pengembangan usaha berbasis komunitas utamanya mengenai pengelolaan SPPG dan pemberdayaan komunitas. Tahap ketiga adalah Learning to Implement/Be, yaitu belajar untuk menerapkan nilai dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap ini, individu mulai membangun kemandirian aksi dengan mengambil tanggung jawab nyata di lingkungannya masing-masing, namun tetap bergerak dalam visi bersama.
Sementara itu, tahap keempat adalah Learning to Organize, yang menjadi fokus kegiatan di Kampung Ilmu Banjarnegara yaitu proses membangun jejaring dan kekuatan kolektif. Dalam konteks pengelolaan DAS Serayu, konservasi, isu sedimentasi, pemberdayaan masyarakat, integrasi pertanian dan peternakan diwujudkan melalui kolaborasi antara komunitas masyarakat, BUMN, hingga gerakan akar rumput yang dimotori Serayu Network. Fokus utamanya bukan hanya membangun struktur kerja, tetapi memperkuat modal sosial (social capital), rasa saling percaya, dan tata kelola bersama sebagai fondasi keberlanjutan program konservasi dan ekonomi hijau di masa depan. Melalui rangkaian kegiatan dari hari pertama hingga hari ketiga, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman belajar secara teoritis, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana perubahan dapat lahir dari partisipasi masyarakat, gotong royong, dan kepemimpinan komunitas. Pemanfaatan Sedimen menjadi bahan baku bata merah oleh Kelompok Bamba Mulya, SPPG Merden, SPPG Mrica, Kampung Ilmu Serayu Network, Kampung Kopi Konservasi Senggani, Rumah Mocaf, Integrasi Pertanian dan Perikanan Tlagawera, hingga Telaga Menjer menjadi contoh bahwa solusi besar tidak selalu harus dimulai dari anggaran besar, melainkan dari kesadaran bersama untuk bergerak dan menjaga lingkungan secara kolektif.
(MLA_YSNI)