Gayam: Di Balik Mitos, Tersimpan Peran Besar bagi Konservasi
Budaya Jawa mengenal pohon gayam (Inocarpus fagifer) sebagai simbol “gegayuh ayem”, yang dimaknai sebagai upaya mencapai ketenteraman. Filosofi tersebut mencerminkan harapan agar manusia mampu hidup selaras dengan alam, menjaga keseimbangan lingkungan, serta mewariskan kelestarian kepada generasi berikutnya.
Makna tersebut berpadu dengan berbagai cerita dan mitos yang hidup di tengah masyarakat. Sebagian masyarakat meyakini bahwa pohon gayam menjadi tempat bersemayam makhluk halus atau penunggu sehingga dipandang sakral dan tidak ditebang sembarangan. Kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal. Tanpa disadari, kebiasaan menghormati dan mempertahankan pohon gayam turut menjaga kelestarian salah satu tanaman lokal yang memiliki nilai ekologis tinggi.
Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu saat ini menghadapi tantangan berupa berkurangnya tutupan hutan yang menyebabkan daya serap air terus menurun. Air hujan yang tidak terserap secara optimal mengalir langsung menuju sungai sambil mengangkut partikel tanah sehingga memicu erosi dan sedimentasi. Kondisi tersebut diperparah oleh pemanfaatan lahan pada lereng yang belum sepenuhnya menerapkan kaidah konservasi tanah. Gayam memiliki sistem perakaran yang kuat untuk meningkatkan infiltrasi air, memperkuat struktur tanah, serta mengurangi risiko erosi. Tajuknya yang rindang juga mampu menjaga kelembapan tanah, menyerap karbon dioksida, dan menyediakan habitat bagi berbagai jenis satwa.
Pelestarian gayam menjadi salah satu upaya yang berpotensi mendukung pemulihan kawasan hulu DAS Serayu. Penanaman pada lahan-lahan kritis diharapkan mampu memperkuat fungsi daerah resapan air, menekan laju sedimentasi yang bermuara ke Waduk Mrica, serta memulihkan keseimbangan ekosistem. Harapan tersebut sejalan dengan komitmen Serayu Network untuk mengembangkan tanaman lokal sebagai bagian dari upaya konservasi DAS Serayu. Langkah tersebut tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menghidupkan kembali kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.